Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

sayang vs. kehilangan

“Apaa..??” seru Fey kaget.
Dari wajahnya terlihat Fey memang sedih sekali.
Byan merangkul Fey, “Ya sudah gak apa-apa. Yang penting sekarang dia sudah bahagia. Kalau kamu mau nanti kita beli lagi ya?” ujar Byan lembut.
Fey mendongak dengan wajah memelas.
“Bukan masalah kita bisa beli lagi...” sahutnya.
“Iya, iya, aku ngerti.” lanjut Byan.
“Kamu sudah sayang banget kan sama Choky?” Byan tersenyum sambil membelai rambutnya.
Yang ditanya mengangguk diam sambil memandang sedih sosok yang membengkak di depan mereka.

Choky adalah seekor guinea pig. Dari pinggang ke atas bulunya berwarna putih dan sisanya coklat. Kaki depan sebelah kanan dan kuping kanannya juga berwarna coklat. Kalau dilihat dari jauh, Choky seperti guinea pig berbulu putih yang memakai celana coklat :)

Itulah guinea pig kesayangan Fey. Sebenarnya Byan membelikan Fey lima guinea pig. Masing-masing sudah dilabei oleh nama-nama lucu. Yang hitam legam bernama Omen, yang bermotif putih hitam bernama Bonnie, yang berbulu panjang yang keriting bernama Jabrix, seekor betina diberi nama si Mbok, dan terakhir si Choky.

Awalnya Fey sayang sekali pada Omen, karena Omen lah yang paling penurut dibanding yang guinea pig yang lain. Omen berani makan dari tangan Fey dan Byan tanpa takut. Omen juga berani bermain di area yang sangat dekat dengan mereka. Hanya saja beberapa bulan lalu, guinea pig itu menghilang. Hanya Choky yang tersisa. Fey dan Byan sudah mencari seisi rumah, halaman, bahkan sampai ke tetangga. Mereka tidak kunjung ditemukan juga. Segala pencarian berakhir dengan kesimpulan mereka digondol kucing yang suka mengintai di rumah mereka. Fey teramat sedih dan kecewa.

Fey tidak terlalu peduli pada Choky, yang sejak dulu memang lebih suka sendiri. Sejak ditinggal teman-temannya, Choky semakin takut pada manusia. Hanya mendengar suara sedikit saja, Choky pasti lari terbirit-birit dan bersembunyi di antara semak-semak. Itulah sebabnya Choky sulit diberi makan. Fey hanya meletakkan beberapa makanan di suatu tempat agar Choky bisa makan selepas mereka pergi. Selebihnya Choky lebih memilih memakan rumput halaman belakang.

Hingga suatu hari.
“Byan, denger gak?” bisik Fey.
Byan memasang telinga mencari suara yang dimaksud Fey.
“Itu Choky ya?”
Fey mengangguk. Mereka berdua bangkit lalu mengintip ke arah halaman belakang tempat Choky dilepas.

Choky bersuara seperti kelaparan. Dia berdiri persis di depan pintu. Ia mondar-mandir ke sana ke mari sambil mengendus mencari-cari makanan.
Fey tersenyum lalu berkata pada Byan, “Kita masih punya wortel kan? Kita kasih makan Choky yuk?”




Sejak saat itu, setiap pagi, Fey akan memotong wortel menjadi potongan kecil-kecil lalu meletakkan di sebuah piring kecil. Sambil membawa satu mug besar berisi susu, Fey duduk di teras belakang ditemani Byan. Mereka minum susu bersama sambil memandangi Choky yang menyantap potongan wortel tak jauh dari mereka.




“Choky mungkin kelaparan ya?” tanya Fey sambil meratakan gundukan tanah di depannya.
Byan mengangkat bahu, “Bisa jadi.”
“Tadi pagi kan kita gak kasih Choky wortel, hujan deras banget. Choky kan ngumpet kalo hujan.” lanjut Fey lemas.
“Iya, sebetulnya bukan karena kelaparan juga sih. Kamu kan tau, Choky itu suka main-main ke mana-mana. Ya mungkin dia main-main terus naik ke gundukan tanah sekitar kolam ikan, dia liat ada beberapa eceng gondok. Dia pikir mungkin itu tanah, makanya dia turun, ternyata air.” jawab Byan.
Kasian Choky..” Fey memandangi lagi gundukan tanah itu.
Byan mengusap punggung Fey.
“Choky sudah berkumpul sama teman-temannya.” Ia tersenyum menghibur Fey.
Fey mengangguk lemas.
“Padahal aku sudah sayang banget sama Choky.”
Byan tersenyum, merangkul Fey. Mereka masuk ke rumah menghindari hujan rintik-rintik.
Byan berbisik, “Choky juga sayang sama kamu.”


Kita merasakan kehilangan ketika yang dicintai tidak lagi bersama kita.

Balada Nasi Goreng

Di meja makan, semua sudah tertata rapi untuk makan siang kali ini. Memang hari Sabtu dan Minggu adalah hari memasak sedunia bagi Dea. Masalahnya jika hari kerja, Dea sudah kehabisan energi sesampainya di rumah sekitar pukul delapan malam. Boro-boro mikirin menu masakan, kadang memikirkan untuk mandi saja sudah membuat dirinya malas. Maunya langsung lompat ke tempat tidur :)

Nah, maka dari itu, hari Sabtu kali ini Dea mengerahkan kemampuan memasaknya. Menu hari ini adalah tumis brokoli dengan jamur, cumi goreng tepung, dan puding jeruk untuk desert. Dea berdiri di sisi meja makan tersenyum sambil memandangi dan mengagumi sendiri karya masakannya yang telah ia tata rapi di atas meja makan.

Sekarang tinggal memanggil Arman, pikirnya.

Dea melepas celemeknya sambil berjalan menyusuri ruang-ruang rumahnya, mencari Arman, suaminya. Arman tengah berada di ruang kerja, duduk menghadap komputer.
“Man, makan yuk?” ajak Dea manja. “Aku sudah masak yang spesial buat kamu.”
“Loh, sudah matang ya?” sahut Arman dengan mata tetap menatap layar komputernya.
“Ini kan sudah jam dua belas.” Dea mendekati Arman,
Sekilas Arman melirik jam di dinding ruang kerjanya. Ia menghembuskan napas berat.
Cepet banget sudah jam dua belas.”
“Makanya yuk, makan.” Dea merangkul tangan Arman.
“Tapi... aku masih agak kenyang, tadi pagi kan pulang lari pagi bareng Bobby makan nasi goreng.” jawab Arman pelan. “Kamu udah laper ya?”
Dea sedikit cemberut.

Nasi goreng lagi!



Dea sebel banget dengan menu yang satu itu. Bukan masalah Dea tidak suka dengan nasi goreng, tapi justru karena Arman terlalu fanatik dengan nasi goreng. Ke manapun makannya pasti nasi goreng. Kalau masakan si mbok di hari kerja kurang cocok dengan lidahnya, Arman pasti beli nasi goreng lagi. Memang sih apapun yang terhidang di meja makan, pasti disantap oleh Arman. Tapi dua jam setelahnya, ia pasti langsung memesan nasi goreng. Dea sudah benar-benar bosan melihat dan mencium aromanya.

Pernah suatu kali Dea bertanya, “Kok kamu doyan banget sih sama nasi goreng?”
Arman yang tengah menyantap nasi goreng panas-panas cuma berujar, “Abis enak. Cobain deh.” Ia menyodorkan satu sendok penuh nasi goreng ke arah Dea.
Dea menggeleng, bukan karena hanya perutnya sudah penuh dengan makan malam, tapi lebih pada rasa mualnya pada nasi goreng.
Gak bosen apa hampir setiap hari makan nasi goreng?” tanya Dea agak sebal.
“Ya sama kayak kamu gak bosen-bosen makan cokelat tiap hari.” jawab Arman santai.
Dea hanya bisa menelan ludah kesal.
Masa iya, makan nasi goreng disamain sama makan cokelat!

Hal kedua yang membuat Dea kesal dengan nasi goreng Arman adalah budget rumah tangga membengkak karena untuk membeli nasi goreng. Lama-lama meski menu yang terhidang di rumah adalah menu kesukaannya, Arman tetap beli nasi goreng. Untungnya Arman memang penyuka nasi goreng gerobak abang-abang yang berkeliling tiap malam, bukan nasi goreng restoran. Tapi kan tetap saja, delapan ribu setiap hari, pikir Dea.

***

Pernah suatu kali Dea putus asa akan reaksi Arman yang cuek banget dengan perkataannya. Dea menumpahkan kekesalan ini kepada Mamanya. Bukan dukungan yang ia peroleh, malah Mamanya menertawakan dia.
“Kamu ini gimana sih, Dea. Suamimu doyan makan kok sebel?” sahut Mamanya kali itu.
Masih sambil wajah cemberut, Dea menjawab kesal, “Bukan masalah doyannya, Mama... Ini sih namanya udah gila sama nasi goreng.”
Hus, gak boleh ngomong sembarangan.” bentak Mamanya.
Dea semakin cemberut.
“Kenapa kamu gak belajar masak sendiri nasi goreng buat Arman. Lebih irit, Mama yakin Arman pasti suka. Jangan chinese food terus yang dimasak.” usul Mamanya.

Hm..betul juga usul Mama, pikir Dea.


Kali ini Dea berada di dapur lengkap dengan peralatan masaknya. Menu hari ini nasi goreng. Ya, nasi goreng saja! Ehm, sebenarnya bukan nasi goreng saja, ada telor ceplok, mentimun, dan tomat sebagai hiasannya. Dea mau nasi gorengnya terlihat cantik ketika dilihat Arman.

Wueek...” Dea menjulurkan lidahnya. Ia baru saja mencicipi nasi goreng perdananya. Keasinan! Dea memutar otaknya bagaimana caranya mengubah rasa nasi goreng di depannya ini. Setelah ia tambahkan gula pasir dua sendok makan, Dea mencicipi lagi. Matanya berputar-putar.
“Lumayan lah, it's better.” Dea memuji dirinya sendiri, meski dalam hati kecilnya ia geli menyadari nasi goreng mana yang pakai gula pasir.


Inilah nasi goreng buatan Dea untuk Arman.


Loh kok daun bawangnya di pinggir?” tanya Arman pertama kali begitu melihat nasi goreng buatan istrinya.
Dea tersenyum simpul. “Aku kan gak doyan daun bawang. Jadi daun bawangnya khusus untuk kamu.”
“Oalaaah..” jawab Arman geleng-geleng kepala, biar demikian Arman kemudian mencium pipi Dea.


Belum pernah Dea sebahagia ini.
"Yes, besok bikin nasi goreng lagi yang lebih enak." bisiknya pelan.


Involve totally in your relationship and see how magic it brings to you back
Tuk my hubby yg tergila-gila dengan NasGor :)

Kembali ke Masa Lalu


Oalaah...kebanyakan nonton film yang gak jelas nih kayaknya :)
Tapi meskipun malu, aku harus mengakui. Kalau ditawari atau kalau ada kesempatan aku pasti akan menerimanya dengan senang hati. Aku mau kembali ke masa lalu.


Wina meletakkan dua piring berisi nasi goreng buatannya di atas meja makan. Senyumnya mengembang. Berkali-kali Wina memastikan tatanan meja makan kali ini, khawatir ada sesuatu yang kurang. Maklum, hari ini adalah hari spesial. Hari ini adalah ulang tahun Raja, suaminya.

Wina tahu betul kalau Raja penggemar berat nasi goreng. Dan untuk ulang tahun Raja kali ini, Wina sudah membuat persiapan jauh-jauh hari sebelumnya. Meski menunya nasi goreng, tapi lihat dulu tatanan meja ala Wina. Dua piring putih berisi nasi goreng dengan telur dadar berbentuk hati. Kerupuk bawang sengaja dipilih yang pinggirnya hanya berwarna merah, berkmpul rapi di dalam mangkok putih. Dua gelas tinggi berisi sirup kokopandan bercampur soda agar terasa lebih nyess... Daaan tak ketinggalan, dua tangkai mawar putih di vas tinggi yang diletakkan di tengah meja. Kurang apa lagi, coba?

Wina tersenyum puas memandang hasil kerjanya. Matanya melirik jam dinding. Ah, sebentar lagi Raja pulang dari kantor. Sambil menunggu, Wina duduk di ruang tengah.

Tanpa direncanakan, pikiran Wina terngiang dengan pembicaraan kemarin sore. Ya, kemarin sore saat berbelanja bahan makanan, Wina bertemu Ajeng, sobatnya saat di bangku sekolah dulu. Mereka berdua sempat minum kopi sambil menunggu kemacetan. Banyak hal yang dibicarakan, tapi yang paling menyentak Wina adalah cerita tentang Kenny.

Jauh di dalam lubuk hati, Wina mengakui memang Kenny pernah mengisi hatinya di masa lalu. Bukan sebagai kekasih, karena hanya bertepuk sebelah tangan. Saat Ajeng bercerita ada rasa perih di hati Wina, mengingat sosok yang dulu pernah ia sayangi tapi tak pernah bisa ia miliki. Tapi Wina pun tidak memungkiri, ada perasaan penasaran yang luar biasa untuk tahu lebih jauh bagaimana Kenny saat ini. Aduh, bagaimana ini?

Ternyata Ajeng dan Kenny sama-sama bekerja di kantor yang sama. Bahkan Ajeng dengan ringannya bercerita bahwa Kenny patah hati sejak tiga tahun yang lalu dan sampai saat ini tidak berminat untuk memiliki kekasih. Sejenak Wina terpaku. Bukan hanya karena apa yang diceritakan Ajeng tapi pikirannya jauh terbang ke masa tiga tahun lalu. Celotehan Ajeng hanya berlalu di telinganya, sama sekali tidak ia dengarkan. Wina baru menyadari, kalau penyebab Kenny tidak mau memiliki kekasih itu karena dirinya.

Ya, tepat tiga tahun lalu, setelah beberapa tahun berpisah, Wina kembali bertemu dengan Kenny. Saat itu Wina berada dalam dua pilihan, meneruskan perasaan cintanya dulu atau meninggalkannya untuk selamanya. Wina masih ingat pandangan mata Kenny yang lembut, tutur katanya yang manis, dan semuanya yang indah-indah. Tapi Wina tidak mengharapkan hal demikian saat itu, mungkin dulu iya, tapi tidak kali ini.

Maka Wina memutuskan menceritakan rencana pernikahan dengan tunangannya kepada Kenny. Tidak ada apa-apa yang terjadi saat itu. Tapi sejak saat itu Kenny tidak lagi muncul dan tidak dapat dihubungi.


Wina kembali melirik jam dinding. Raja belum juga pulang.

Dan malam itu, Wina membayangkan ia kembali ke masa lalu. Kembali ke tiga tahun lalu dan ia tidak akan menceritakan tentang rencana pernikahannya dengan Raja. Mungkin juga ia bisa menikah dengan Kenny, cinta pertamanya. Wina membayangkan segala sesuatunya dengan indah, apa-apa yang dimiliki Kenny, kepintarannya, kesuksesannya, ketampanannya, dan semuanya. Wina bahkan membayangkan Kenny yang selalu mengajaknya berlibur ke luar negeri sesuai tugasnya.


Ting!


Suara mcrowave mengejutkan Wina. Ia bergegas ke dapur dan saat itu ia baru menyadari bahwa ia sedang memanaskan smoke-beef kesukaan Raja. Air mata Wina menetes ketika melihat lembaran-lembaran smoke-beef di atas piring. Kepalanya menggeleng pelan lalu Wina tersenyum.

Sambil memandangi smoke-beef, Wina berbisik,” Tuhan sudah menyediakan Raja untukku, bukan Kenny. Karena Tuhan tahu yang terbaik untukku.”

Dan bel berbunyi. Wina berlari menghampiri pintu, menyambut Raja dengan penuh cinta.

Cinta sejati bukan dilihat dari apa yang kau terima, cinta sejati dilihat dari apa yang kau telah berikan.

Ketika Cinta Tidak Terucap (1)


Semua orang memiliki pengalaman cinta pertama. Namun bagaimana cerita cinta pertama itu berakhir, itu yang pasti berbeda.

Masih tengah malam, aku duduk di tepi ranjang, menengak habis segelas air putih. Jam menunjukkan pukul 00.15. Kupandangi suamiku yang tertidur lelap. Ya Tuhan, kenapa aku bermimpi tentang dia lagi ?
Jantungku begitu berdebar, keringat dingin. Aku baru saja bermimpi. Bayanganku kembali ke masa lalu, sekitar 13 tahun lalu.


Waktu itu aku duduk di kelas sekolah menengah pertama. Aku begitu terkesima dengan sosok anak laki-laki di kelasku yang sangat pintar. Ya, kamu. Sejak di kelas lima sekolah dasar, aku tidak pernah bisa mengalahkan kamu untuk menjadi juara kelas. Kuakui kamu memang benar-benar pintar. Seiring dengan kedewasaanku, aku merasa kekaguman ini berubah perlahan menjadi rasa sayang. Oh My God, i’m falling in love ...

Tapi kamu begitu cuek, sesekali aku memergoki kamu sedang memandangiku. Tapi di detik yang sama kamu pasti akan membuang muka. Ketika kita berpapasan dilorong kelas, pernahkah kamu tidak mengalihkan pandangan dariku ? Tidak pernah sekalipun. Sekali-kalinya kamu berbicara kepadaku, ketika kita satu kelompok dalam sebuah tugas pekerjaan sekolah. Pernah suatu ketika seluruh kelas mengejek kita berdua sebagai pasangan yang pacaran. Aku malu bercampur senang. Namun ketika kita didudukan dalam meja yang sama, kamu duduk di pinggir, mencoba menjauhiku. Aku pura-pura tidak memperdulikan itu. Tapi tahukah kamu, saat itu hatiku menangis. Begitu tidak pantasnya kah aku untukmu ? Begitu jeleknya kah aku sehingga kau begitu ?

Semua perasaan ini aku simpan sendiri. Aku hanya membagikannya dalam tulisan kata-kata dalam diariku. Setiap hari, kehebatanmu, kepintaranmu, pandangan matamu, bahkan buangan mukamu kutulis di sana. Meskipun aku tidak bisa dekat denganmu dan memilikimu, aku memiliki cerita tentangmu, pikirku waktu itu.
Semakin hari diariku penuh dan semakin banyak. Tidak jarang aku menangis karenamu. Aku hanya bisa membayangkan seandainya kau mau berdekatan denganku. Ya Tuhan, apakah aku gila ?

Semakin lama aku membenci perasaanku sendiri. Aku tidak bisa berhenti menyukaimu sementara hatiku tidak bisa menerima perlakuanmu kepadaku. Aku tidak mungkin terus menangis karena dirimu yang sama sekali tidak peduli padaku. Aku tidak mungkin terus-terusan membayangkan kamu adalah pacarku. Aku bisa gila beneran! Bantalku sudah penuh dengan air mata. Aku pun terlalu lelah berpura-pura senyum dan ceria meski jauh di dalam hati ini aku selalu menangis dan menangis....

Hingga satu saat, aku menerima berita bahwa kau berpacaran dengan anak perempuan di kelas kita ! Aku begitu sedih, tapi aku tidak punya lagi air mata untuk kamu. Aku terluka, tapi tidak ada lagi amarah yang tersisa. Aku mencoba tersenyum setiap kali berpapasan dengan kalian berdua. Kalian begitu cocok. Paling tidak anak perempuan itu lebih putih dan lebih kurus daripada aku. Dan pada hari itu, aku memutuskan untuk menghentikan semua perasaan yang aku miliki kepadamu. Perasaan “cinta sendiri“ selama 5 tahun kukubur bersama dengan abu bakaran diari-diariku.

Aku kembali memandangi suamiku yang masih tertidur. Sekarang ia menggenggam tanganku. Begitulah ketika kami tidur, saling menggenggam tangan.

Ketika aku melanjutkan kehidupanku selanjutnya, aku mencoba membuka diri dengan cinta yang baru. Aku merasakan cinta kedua dan cinta ketiga, meskipun harus kembali terluka karena lepas dari cinta-cinta itu. Aku tetap masih terbayangi oleh dirimu, meski aku tidak lagi mengetahui dimana dirimu saat itu. Aku kadang masih membayangkan bertemu denganmu. Hingga suatu saat Tuhan mengabulkan, kita dipertemukan kembali. Ternyata saat itu, kau tengah menyelesaikan proyek di tempat aku bekerja. Dua kali kita sempatkan makan siang bersama. Saat itu ada perasaan yang mencoba keluar lagi dari relung terdalam hatiku. Tapi aku merasa begitu hampa. Aku yang bisa dekat denganmu sekarang, berbicara, bahkan makan bersama, justru merasa sangat hampa. Bisa jadi karena akupun tengah merencanakan pernikahan dengan tunanganku. Tapi tahukah kamu, momen seperti ini, pandangan matamu yang seperti ini, yang aku rindukan waktu di sekolah dulu. Dulu. Bukan sekarang.

Di tengah kehampaan yang aku rasakan, dengan berani aku utarakan kepadamu. Ini adalah pertama kalinya aku berani di hadapanmu. Waktu itu aku sampaikan, aku tengah berbahagia dengan tunanganku, hingga berat badanku naik beberapa kilo. Aku berusaha tidak melihat kekecewaan di matamu saat itu, kau pun pandai menghapusnya dengan segera.

Aku tahu aku telah memutuskan untuk membuka lembaran hidup yang baru. Ini tidaklah mudah, tapi harus kulakukan karena kau sepertinya tidak pernah mencintaiku. Ternyata setelah cinta bertepuk sebelah tangan selama bertahun-tahun, Tuhan telah menyiapkan seorang pangeran untukku. Dia yang begitu mencintaiku tanpa keragu-raguan sedikitpun. Dan aku tidak akan mengulang kesalahan lagi. Aku tidak mau kehilangan cinta lagi. Aku tidak malu mengungkapan isi hati dan perasaanku.

Aku berencana untuk tidak mengundangmu dalam misa pernikahanku. Tapi Tuhan sepertinya melarangku. Kau sendiri yang melihat dalam pengumuman gereja dan hanya dengan pesan singkat via handphone, kau ucapkan selamat tapi setelah itu tidak pernah lagi kulihat dan kudengar kabarmu.

Hingga sekali lagi pertemuan itu terjadi kemarin. Dalam sebuah antrian, kamu berdiri di sana seorang diri. Aku kenalkan kau dengan suamiku. Aku tahu ada tatapan lain di matamu, aku tahu itu. Tapi aku tidak mau memikirkan hal itu. Aku sengaja memperlihatkan kemesraanku dengan suamiku dan ku lihat dari sudut mataku kau memandangiku kemudian memalingkan wajah dan pergi.

Maafkanlah aku. Dulu aku mencintaimu, tapi luka telah membakar habis semua perasaan yang ada. Aku tidak pernah tahu isi perasaanmu. Yang aku tahu, kau telah membuat hidupku berwarna. Kau telah mengajarkan aku mengenal cinta sekaligus patah hati untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku sungguh berterima kasih untuk itu.
Semoga Tuhan selalu memberkati dirimu dan cita-citamu.
Kuyakin Tuhan sudah menyediakan pasangan terbaik untukmu.

Suamiku terbangun. Ia memelukku dan kami melanjutkan tidur dalam mimpi yang indah.


...... to be continued

Ketika Cinta Tidak Terucap (2)


Semua orang sering kali merasa ragu akan kemampuan dirinya. Namun ketika rasa ragu itu menjadi terlalu besar, berarti kau sedang membunuh dirimu sendiri.

Aku baru saja mengantarkan tunanganku pulang ke rumahnya. Seharian ini kami berbelanja untuk keperluan rumah baru kami. Aku duduk di tepi ranjangku, menghadap jendela, memandang langit yang semakin hitam.

Aku hendak membuka lembaran hidup baru bersama tunanganku, Tuhan, kenapa Kau munculkan lagi dia di hadapanku ?

Kemarin aku bertemu lagi dengan sosok masa laluku. Dulu dia adalah anak perempuan di kelasku. Anaknya lucu, imut-imut, pintar, selalu riang, tidak pernah kulihat dia sekalipun bersedih. Pertama kali aku sekelas dengan di kelas 5 sekolah dasar. Dia adalah satu-satunya perempuan sainganku untuk juara kelas. Tentunya aku malu jika dikalahkan oleh seorang perempuan. Aku belajar mati-matian supaya aku tetap juara kelas.

Ternyata perjuangan aku bukan hanya karena aku malu. Setiap hari senyum dan tawanya yang ceria selalu terbayang-bayang olehku. Dia menjadi penyemangat dalam hidupku. Tapi....yang menjadi pertanyaan besar di benakku adalah apakah dia suka juga denganku ? Setiap saat dia dekat dengan siapapun, dia bisa bercanda dan bergaul dengan siapapun, entah laki-laki maupun perempuan. Tapi begitu bertatapan ataupun berpapasan dengan aku, dia menunduk bahkan menjauh.

Aku tidak bisa menyalahkan dia atas sikapnya itu. Akupun memang membatasi diriku dalam pergaulan. Aku malu. Ya, aku memang tidak percaya diri dengan keadaanku. Aku mungkin juara kelas, tapi aku malu dengan kondisi keluargaku.

Bayangan adikku terlintas lagi. Bocah kurus yang tidak pernah lepas dari gendonganku. Aku pernah membencinya. Tapi semakin hari aku semakin mencintai kepolosan dan keterbatasannya. Memang dia diciptakan Tuhan untuk membuat aku menjadi kakak yang sabar.

Setiap hari, aku selalu berdoa supaya hari ini aku bisa berdekatan dengannya, paling tidak tersenyum padanya. Aku tidak peduli apakah dia mau membalasnya atau tidak. Namun yang terjadi adalah, setiap pulang sekolah, aku hanya mengutuki diriku sendiri di dalam kamar karena keragu-raguanku, karena kebodohanku, karena ketakutanku. Setiap hari selalu begitu.

Suatu hari, ada sekelompok anak perempuan di kelasku. Mereka terkenal dengan gank yang cantik dan anak orang kaya. Salah satu diantara mereka, ternyata menyukaiku. Aku bingung harus bagaimana. Hati kecilku ragu dan terus ragu untuk menyukainya. Tapi sekali lagi karena kebodohanku, aku tidak bisa menolak candaan manja dan rengekannya. Aku sangat membenci diriku karena aku harus mengambil keputusan yang berat. Aku tahu siapa yang aku sukai, tapi yang aku tahu dia tidak menyukai aku.

Tunanganku menelpon. Aku biarkan namanya menghilang dari layar handphoneku, berubah menjadi panggilan tak terjawab. Ya Tuhan, kenapa aku selalu diliputi oleh keragu-raguan ?

Akhirnya aku memutuskan untuk memilih sekolah lanjutan yang memberi fasilitas beasiswa penuh. Terpaksa aku pilih karena aku pun tidak mau menambah beban orang tuaku. Di satu sisi aku harus siap kehilangan dia, cinta pertamaku.

Namun suatu hari, aku dikejutkan oleh berita yang luar biasa. Dia dikabarkan berpacaran dengan salah seorang kenalanku. Aku mau marah. Aku tidak terima. Bukan hanya karena laki-laki itu kukenal tidak baik, tapi karena aku cemburu. Aku malu mengakui aku cemburu karena aku bukanlah siapa-siapa. Tapi rasa itu tidak bisa aku ingkari. Jadi kupendam saja rasa itu. Bahkan ketika aku beberapa kali bertemu dengannya, aku berpura-pura tidak ada sesuatupun yang terjadi. Aku lebih senang melihat wajahnya yang semakin lama semakin dewasa. Begitu seterusnya sambil aku mengejar cita-cita, memperbaiki karir dan kehidupan keluargaku hingga ke negeri Cina. Tanpa kusadari, aku menjadi pria penuh dedikasi untuk karir, karir, dan karir.

Hingga suatu saat, perusahaan tempat aku bekerja menempatkan aku untuk sebuah proyek di perusahaan swasta. Ternyata dia bekerja di situ. Ya Tuhan, Engkau telah mengubahnya menjadi wanita yang cantik, Senyum dan keceriannya tidak berubah sama sekali. Kami menyempatkan makan siang bersama. Saat itu, rasa yang selama ini terpendam, sedikit demi sedikit berontak keluar. Aku menyukai saat dia bercerita dengan semangatnya, tatapan matanya, tawanya. Kenapa dulu tidak bisa seperti itu, gadisku ?

Kami merencanakan makan siang yang kedua dan aku meneguhkan hatiku untuk kesekian kalinya. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku sengaja mencari tempat makan yang cukup jauh, supaya banyak waktu bersama dia. Kami berjalan kaki. Aku sempat menggoda dia yang sedikit lebih gemuk dibanding pertemuan sebelumnya. Namun jawabannya membuat aku ingin masuk ke dalam tanah dan tidak akan muncul lagi. Ia bilang ia tengah bahagia bersama tunangannya.

Aku memasang alarm untuk besok pagi. Kulihat ada pesan masuk. Aku memutuskan untuk tidak membukanya.

Di tengah kegundahanku, aku lebih fokus pada kegiatan rohani. Aku jadi lebih teratur mengikuti ibadat mingguan. Hingga suatu hari, aku melihat namanya dalam pengumuman pernikahan. Aku tidak lagi emosi karena sudah habis batas emosiku. Memang aku yang membunuh cinta pertamaku sendiri dengan sikap ketakutan dan keragu-raguanku. Akhirnya, aku putuskan untuk mengucapkan selamat via pesan singkat. Dia membalasnya seperti biasa, dengan kata-kata yang ceria. Dia memintaku untuk hadir dalam pernikahannya. Saat itu aku berteriak dalam hati, Oh Gadisku, andai kau tahu, lebih baik kau bunuh aku daripada menyaksikan kau bersanding dengan pria lain.

Hari demi hari aku putuskan untuk mencoba menenangkan hatiku. Meski masih terbayang senyum dan candanya, aku mencoba membuka hati untuk sebuah cinta yang baru. Dia adalah sosok yang berbeda dengan cinta pertamaku. Pendiam, dewasa, tenang, dan sangat keibuan. Dia mencintaiku dan aku memutuskan untuk belajar mencintainya, hingga kini kami tengah menata lembar kehidupan baru.

Setelah sekian lama, kenapa kami dipertemukan kembali ? Dia sudah bersama pangeran cintanya. Ketika berjabat tangan, desiran itu masih terasa. Ketika menyaksikan kemesraan mereka, getaran itu masih bergelora. Namun apa dayaku ? Selain meninggalkan mereka dengan hati tak karuan.

Aku menyesal karena aku telah menyia-nyiakan cinta pertamaku. Namun di tengah penyesalanku ini, aku berharap bisa berterima kasih padanya. Dia mengajarkan padaku bahwa ketakutan dan keragu-raguan tidak akan memberikan hasil apa-apa. Dia mengajarkan aku mengenal rasa cinta pertama kali dalam hidupku. Dia juga yang menguatkan aku meski dengan sebuah luka.

Terima kasih, cinta pertamaku.
Aku memang tidak akan pernah melupakanmu, bukan lagi dengan mencintaimu tapi dengan terus mengenangmu dan mengenang semua yang terjadi di antara kita.
Semoga kau bahagia dengan pangeran pilihanmu.

Aku membuka pesan di handphone yang belum aku buka, ternyata tunanganku. Aku membalasnya. Tidak ada jawaban, sepertinya dia sudah terlelap. Aku memejamkan mata, membayangkan apa yang akan terjadi besok. Aku tidak lagi ragu, besok akan mendaftarkan pernikahanku di gereja, dengan tunanganku tercinta.


Segala sesuatu akan indah pada waktunya...
Indah saat Ia mempertemukan...
Indah saat Ia menyatukan ...

Choices of Life


Semua orang pastilah ingin menjadi sempurna. Menjadi lebih baik, paling tidak. Termasuk aku. Sebagai seorang perempuan, tentunya aku selalu berusaha tampil menarik, rapi, dan enak dilihat. Tapi tidak pernah kusangka sebelumnya jika sekarang aku menjadi seperti ini, hanya karena seorang laki-laki. Karena suamiku...

Namaku Elia. Aku baru saja lulus kuliah ketika aku berkenalan dengan Agung. Di mataku Agung sungguh laki-laki yang dewasa. Dia adalah sulung dari empat bersaudara. Agung sudah bekerja dan sambil kuliah S2. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang pegawai negeri. Agung sempat mengajar sekolah dasar untuk mata pelajaran Bahasa Mandarin. Semua itu dilakukan Agung padahal ia berasal dari kalangan keluarga cukup berada. Aku sungguh-sungguh kepincut pada Agung.

Selang beberapa lama, aku dan Agung semakin dekat. Memang tidak pernah terucap kata sayang secara langsung dari bibir Agung. Namun aku tahu ia sayang padaku dari tingkah lakunya, kata-katanya, dan perhatiannya yang ia berikan padaku.

Hubungan kami direstui oleh kedua orangtuaku. Mereka melihat Agung sebagai laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Tapi berbeda dengan orangtua Agung. Menurutku kedua orangtua Agung tidak sepenuhnya menerima aku. Memang tidak ada kata-kata yang jelas terucap dari mereka. Namun sikap Ibunya cukuplah membuat aku mengerti.

Hingga suatu saat Agung mengajakku bicara. Aku sendiri tidak begitu jelas memahami kata demi kata yang Agung ucapkan. Aku terlalu shock dan tidak percaya. Sedikit yang aku ingat dari semua penjelasannya adalah bahwa Ibunya menginginkan menantu paling tidak berpendidikan S2. Agung berjanji akan membantu aku mencarikan kampus yang terbaik untuk aku mengambil gelar S2. Bukannya apa-apa. Aku memang tidak pernah memilliki rencana untuk kuliah lagi. Tak sedikitpun terpikirkan olehku. Bisa jadi karena aku merasa memang diriku tidak mampu kuliah lagi.

Di tengah kebimbangan itu, kemana lagi aku harus mengadu selain kepada orangtuaku. Mereka menyerahkan sepenuhnya pada pilihanku. Mereka mempercayai aku sebagai seorang wanita dewasa yang mampu mengambil pilihan. Mungkin Anda akan mengecap aku bodoh, tapi memang, akhirnya aku kuliah mengambil gelar S2 di kampus almamater Agung dengan biaya sepenuhnya dariorangtuaku. Parahnya aku harus mengeluarkan ekstra uang untuk mempermulus kelulusanku mengingat nilaiku begitu pas-pasan. Semua aku lakukan karena aku mencintai Agung.

Selepas menyandang gelar tambahan di belakang namaku, perlahan-lahan aku merasa perilaku Ibu Agung mulai melunak. Komunikasi kami mulai terjalin. Meski aku masih merasa ketakutan setiap kali berbicara dengan beliau. Entah kenapa aku pun tidak tahu. Takut pokoknya.

Mungkin ketakutan ini berasal dari lubuk hatiku yang terdalam. Aku sepertinya diberikan ekstra feeling oleh Yang Kuasa akan hal-hal yang kemudian akan terjadi. Tapi aku tidak pernah menyadari akan hal itu. Yang pasti, suatu saat Agung kembali mengajak aku bicara serius. Hatiku sudah tidak karuan rasanya. Aku masih belum lupa saat pembicaraan Agung mengenai masalah S2. Sekarang apa ?

Ternyata Agung menyampaikan ketidaksukaan Ibunya terhadap bentuk gigi dan andeng-andeng ku. Ya Tuhan !
Ibu dan Ayahku yang membesarkan aku tidak pernah sekalipun mengomentari dua gigi depanku yang lebih besar dibanding yang lain. Mereka juga tidak pernah keberatan dengan tahi lalat yang cukup besar yang ada di atas bibirku. Aku sempat bingung dan takut. Namun kembali orangtuaku mengatakan akulah yang berhak memilih segala hal yang ada dalam hidupku. Mereka pun menyempatkan diri mengatakan bahwa mereka mencintai diriku apa adanya. Meski demikian, Anda lagi-lagi akan mengecap aku bodoh karena akhhirnya aku membuat orangtuaku mengeluarkan uang hampir sepuluh juta rupiah untuk mengoreksi gigi depanku dan menghilangkan tahi lalatku. Saat itu aku masih dengan yakin mengatakan aku mencintai Agung.

Kupikir pengorbananku sudah cukup besar untuk Agung. Aku sangat berharap Agung memahami itu. Namun karena kesibukannya, apalagi saat itu dia kembali mengambil gelar S3, perhatiannya terbagi antara keluarga, pekerjaan, kuliah, dan aku. Aku melihat semakin banyak ketidaksepahaman, semua karena komunikasi dan interaksi kami semakin jarang akibat kesibukan. Aku hampir mati rasanya ketika Agung untuk pertama kalinya menampar pipiku hanya karena aku meminta dia mengantarku pulang ke rumah setelah kami makan malam bersama. Waktu itu Agung bilang pekerjaan kuliahnya banyak sehingga harus pulang cepat, tidak bisa mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan di dalam taxi aku menahan air mata.

Kemudian, hampir lebih dari lima tahun menjalin hubungan, Agung baru menyinggung masalah pernikahan. Aku menanggapinya dengan suka cita meski harus menjual mobil hadiah Ayahku untuk membantu biaya pernikahan kami yang lumayan besar. Memang tamu yang diundang dari kedua belah pihak sangat banyak. Kami sepakat membagi dua biaya pernikahan ini. Meski habis-habisan, aku sangat bahagia. Agung akhirnya menjadi suamiku.

Saat aku meminta ijin untuk menikah, Ayahku memberikan aku nasehat. Pernikahan itu ibarat sekolah. Aku dan Agung, yang akan menikah, adalah murid di sekolah pernikahan. Gurunya adalah Tuhan sendiri. Tata tertibnya adalah cinta, setia, dan pengertian. Setiap tahun tetap ada kenaikan kelas dan pembagian raport, yakni introspeksi yang harus dilakukan oleh suami istri untuk peningkatan kualitas hubungan yang lebih baik. Kelulusan sekolah akan terjadi saat keduanya menghadap Yang Kuasa. Jangan sampai drop out dari sekolah pernikahan !

Semua itu kusimpan rapi sebagai bekal kehidupan pernikahanku hingga kini. Kini usia pernikahanku sudah memasuki usia sepuluh tahun. Tak kupungkiri masalah-masalah kecil kian datang silih berganti. Setiap kali tidak segan-segan Agung marah dan memukul aku. Ia pun berlaku sangat keras dan disiplin pada kedua anak kami. Sampai kini, Agung memang tidak lepas dari kesibukannya. Meski demikian, setiap akhir minggu ia membebaskan dirinya dari segala pekerjaan karena ingin bersama keluarga. Sehari-hari, aku lah yang membanting tulang untuk semua pekerjaan rumah tangga karena Agung tidak setuju dengan adanya pembantu rumah tangga.

Memang benar apa yang dikatakan orangtuaku. Hidup itu penuh dengan pilihan. Dan aku sudah memilih pilihan untuk hidupku. Meski orang lain menilai pilihan yang kuambil diluar akal sehat, tapi aku harus bisa menjalani hidupku. Hidupku demi keluargaku, demi kelulusan sekolah pernikahanku. Semoga. Doakan ya :-)

*) seperti diceritakan oleh sumber kepada penulis

Buah Selingkuh


Di kolong langit ini, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin.


Aku baru saja pulang dari sebuah Café di bilangan Kemang. Aku tidak tahu harus menyesali pertemuan itu atau tidak. Pertemuanku dengan Hellin, wanita yang selama ini membuat ku tidak bisa hidup tenang.

Hellin hanyalah wanita biasa saja. Secara fisik tidak terlalu sempurna. Tutur katanya pun biasa saja. Tapi entah ada apa di dalam matanya yang membuat aku terpikat, selalu ingin menatap dia. Mungkin semua orangpun demikian. Setelah pembicaraan cukup lama dengannya baru kuketahui ternyata dia berkerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan kontraktor. Dari penampilannya, semua orang yang meliHat Hellin pasti langsung berpikir ia adalah seorang wanita karir sejati. Tapi tidak buat aku.
Bagiku, dia hanya seorang wanita yang mengancam hidupku.

“Tapi kami berdua sudah sepakat akan menikah.” Ucap Hellin dengan pandangan yang begitu polos ketika aku memintanya untuk menjauhi Roy, suamiku.
Parahnya, Hellin sudah mengetahui bahwa aku dan Roy telah menikah tiga tahun lalu bahkan hubungan mereka terjalin lebih dulu dibandingkan dengan pernikahanku.

Aku pulang dengan hati lunglai. Pertemuan yang kuharap bisa membawa suamiku kembali ke pelukkanku ternyata sia-sia. Aku pikir Hellin bisa kuajak berbicara dari hati ke hati sebagai sesama wanita.

***

Satu bulan telah berlalu dari pertemuan di cafe itu. Roy telah pergi dari rumah membawa semua barang miliknya, meninggalkan aku dan Raya, buah hati kami. Tangisan Raya setiap kami bertengkar ternyata tidak bisa membendung kebulatan tekad Roy untuk berpisah dariku.
Kini aku sudah hampir terbiasa menghabiskan waktu hanya berdua dengan Raya.

Tanpa terasa, di tengah kegundahan dan kesendirianku, banyangan demi bayangan di masa lalu kembali terkuak.
Aku dan Roy berkenalan dengan perantaraan seorang teman. Tanpa menunggu lama, status kami langsung menjadi pacar. Maklum usiaku yang ABG saat itu memang menantikan sosok pacar yang semua ada pada diri Roy. Karena begitu sayangnya, Roy menjadi sangat posesif, ia tidak akan mengijinkan aku berpergian seorang diri tanpa dia. Di tengah kesibukannya, ia memang menyempatkan waktu untuk bertemu denganku di akhir pekan. Seiring dengan waktu, kesibukkan Roy terus bertambah, terutama setelah ia mendapat posisi yang cukup meyakinkan di perusahaannya. Aku hanya bisa mendoakannya agar ia selalu sukses, meskipun hatiku mulai dirudung kegundahan mengingat masa pacaran kami sudah berlangsung lebih dari 10 tahun. Orang tua kami sudah mendesak agar kami segera melangsungkan pernikahan. Roy beberapa kali menolak dengan alasan kesibukan dan ketidaksiapannya. Aku hanya bisa berpasrah. Hingga suatu hari, Roy tiba-tiba datang menemuiku dan mengajakku segera menikah. Meski dilanda kebingungan karena begitu mendadak, aku mengiyakan saja. Aku memang benar-benar mencintainya. Segala sesuatunya berlangsung begitu indah, hingga kejadian malam itu.

***

“Aku nggak percaya, mungkin salah hasil tes nya..” ucap Roy malam itu.
Aku sekali lagi menunjukkan hasil tes kehamilan yang kulakukan sendiri. Ada dua garis pink di sana. Aku menatap wajah Roy dengan penuh harap, sekaligus bersiap seandainya dia akan memeluk dan menciumiku.
Tapi yang terjadi...
“Aah..tes seperti ini kan bisa salah...” Roy melempar testpack ke atas ranjang dan masuk ke kamar mandi. Dari dalam kamar mandi dia berteriak, “ Coba beli tes yang lain lagi aja.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.
Akhirnya kukatakan,” Kalau begitu, besok temani aku cek ke dokter saja ya.”
“Besok aku ada meeting sampai malam, kalau kamu mau cek ke dokter, ke dokter sendiri saja ya.”
Roy masih berteriak dari dalam kamar mandi.

Aku meraba perutku.
Maafkan Ayahmu, Nak. Bukannya dia tidak menginginkanmu.

***

Semakin hari perbuatan Roy semakin tidak menunjukkan bahwa ia menyayangiku. Ia telah berubah dari suami menjadi musuh. Setiap melihat aku, dia pasti marah dan kemudian pergi dari rumah. Aku melalui kehamilanku sendirian. Untungnya saat aku melahirkan, dia ada di Rumah Sakit, menungguiku bersama sanak keluarga lain, meski setelah tahu anaknya lahir, ia kemudian pergi dengan alasan untuk urusan kantor.
Dan kejadian-kejadian selanjutnya terjadi dan selalu aku maklumi. Meski aku sempat bertanya-tanya sesibuk apakah suamiku hingga selalu pulang larut malam bahkan di akhir pekan kadang tidak pulang. Semua itu selalu dia ucapkan arena urusan pekerjaan. Beberapa kali aku harus membawa Raya ke dokter sendirian, lagi-lagi karena alasan Roy sibuk dengan pekerjaan. Semua itu semakin membuka mataku saat ini. Bukan...Roy bukan sibuk dengan pekerjaan. Dia sibuk dengan Hellin.

***

Aku pandangi Raya yang sedang minum susu. Wajahnya sungguh mirip dengan Roy. Di usianya yang menginjak empat tahun, seharusnya ia tengah bahagia di antara pelukan ayah bundanya. Bukan selalu mendengarkan teriakan dan perkelahian di antara kami berdua.
Aku angkat termometer dari mulut mungilnya.
Ah, 39.7 derajat!
Belum turun juga sejak kemarin malam.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung berkemas. Beberapa saat kemudian, aku dan Raya sudah berada di dalam taxi menuju Rumah Sakit. Di luar hujan sangat lebat. Aku memeluk Raya dengan erat.
Di tengah perjalanan, aku sempat menulis pesan singkat.
Ass.Wr.Wb, Ayah. Raya demam, pnasnya blm trn sjk kmrn. Skrg sy sdg bw Raya ke RS. Mhn doa spy Raya cpt sembuh. Thx.
Tidak ada balasan.
Hingga aku pulang ke rumah. Tidak ada balasan.

***

Semakin hari kondisi Raya semakin lemah. Dia tidak mau minum susu. Berbagai obat dokter telah diminumnya dan panasnya tidak kunjung turun. Badan Raya semakin kurus. Dokter mengatakan Raya hanya demam biasa. Aku berkali-kali komplain karena Raya tidak kunjung sembuh. Terakhir dokter meminta Raya dirawat inap. Aku tidak tega melihat selang infus yang memasuki tubuh kurusnya.
Raya, bertahanlah. Bunda hanya punya kamu saat ini. Bertahanlah sayang.

***

Tuhan menjawab doaku. Kondisi Raya kemudian semakin membaik. Putri kecilku sudah mulai makan dan minum susu dengan lahap. Badannya semakin montok dan aku sangat terharu melihat senyuman dan tawanya. Tidak sekalipun Raya menanyakan Ayahnya. Aku pun tidak berani menyinggung masalah ini karena aku tak pernah tahu jawaban apa yang harus kujelaskan kepada Raya.

***

“Aku menyesal, Nina. Maafkan aku.”
Aku terdiam terpaku.
Tubuhku tidak bisa kugerakkan sama sekali. Semua terasa membeku.
Aku memiliki banyak kata yang ingin kuucapkan, tapi semua berakhir hanya dengan kelu.

Kupandangi wajah di hadapanku yang menunduk lemah. Begitu kuyu. Hati kecilku merasa kasihan namun amarah masih menggelora di dada.Tak terasa tetesan air hangat mengalir dari sudut mataku.

“Maafkan kami, Nina. Maafkan kami telah menyakiti kamu dan Raya.“
Aku tidak bisa mendengar kelanjutan suaranya lagi. Pandanganku penuh dengan air mata. Segera kupalingkan wajahku, kupandangi secara bergantian, Hellin yang menangis tersedu di hadapanku kemudian rumput kering di sekitar nisan itu dimana suamiku terbaring di sana.

***

Roy tidak hanya meninggalkan aku dan Raya demi seorang Hellin. Ternyata malam itu, Roy bermaksud meninggalkan Hellin demi aku dan Raya. Setelah pertengkaran hebat dengan Hellin, Roy pergi mengendari mobil dengan kecepatan luar biasa. Hujan lebat menyebabkan mobil Roy tergelincir. Ya, hujan yang sama ketika aku dan Raya berpelukan di dalam taxi menuju Rumah Sakit.


Kita baru merasakan seseorang begitu berharga ketika kita kehilangan dirinya.

Oh..My Diet...


“ Gila lo Ci. Baru tiga bulan merit badan lo dah melar kayak gitu ! “
Siapa yang kupingnya gak panas mendengar kalimat itu. Apalagi yang mengucapkan adalah sobat sendiri. Mau bunuh diri rasanya hehe...

Tapi aku mencoba membela diri.
“ Ya mau gimana lagi, tiap malam harus nemenin Adit makan. Meski gue gak makan, paling nggak gue nyemil dikit laah. Kasian kan dia makan sendiri. “
Yang ada Yana, sobatku malah ngakak lebih keras.
“ Eci, Eci, belum hamil aja udah segede gini ”

Aku dibuat stress oleh perkataan Yana. Memang sih kalau dipikir-pikir berat badanku bertambah dibandingkan sebelum menikah. Tidak tanggung-tanggung, selisihnya enam kilo ! Aku nggak begitu menyadari. Hanya saja kalau pakai celana panjang yang dulu agak longgar sekarang jadi celana super ketat. Baju dan kaos yang dulu fit to the body sekarang benar-benar strecth. Alhasil sebulan belakangan aku harus beli baju dan celana baru dengan satu ukuran lebih besar dari sebelumnya.

Aku masih tenang-tenang saja karena Adit, suamiku tidak komplain apapun. Di rumah memang ada timbangan berat badan, tapi sepertinya hanya jadi pajangan di rumahku. Tapi aku bertekad untuk diet. Diet diet diet dan diet....
Aku tidak bisa melupakan tawa Yana yang begitu bahagia menertawakan aku tadi siang. Arrgh...

“ Loh, nggak makan, sayang ? “
Adit bengong karena aku hanya duduk berpangku tangan di depannya.
“ Nggak, aku lagi diet. Kamu aja yang makan ya ? “
Adit malah tertawa.
“ Lho kok ketawa sih ?” protesku.
“ Pakai diet segala, kenapa sih ? “ Adit masih senyum-senyum sambil makan.
Meski agak malu, aku menceritakan juga kejadian tadi siang bersama Yana.
Bukannya prihatin karena derita sang istri diledekin sahabatnya, Adit malah tertawa makin keras.
Aku makin kesal. Aku meninggalkan dia makan sendirian sambil cemberut. Di belakangku masih terdengar sedkit tawa Adit.

Meski malamnya, dia mencoba merayuku, aku tetap kesal. Kesal dengan tawanya yang malah pro pada Yana.
“ Sayang, kamu tetap cantik kok. Tapi jangan sampai nggak makan dong. Nanti kalau sakit, aku juga yang pusing...”
Aku tetap cemberut.
“ Udah doong, jangan cemberut terus, Cantik..”
Aku masih cemberut.
“ Padahal aku tadi pulang kerja beli es krim, aku mau makan es krim sama siapa ya ? Istriku lagi diet siih “ goda Adit.
Aaah...aku paling tidak tahan digoda dengan es krim, makanan favoritku sejak bayi. Dan setelah aku pikir-pikir lagi, makan es krim tidak separah makan nasi goreng seperti Adit tadi kan ?




Hah !
Aku terperangah dengan angka yang tertulis di dalam katalog yang sedang kupegang. Harga sedot lemak sangat mahal. Tidak mungkin aku biayai pakai uang sendiri. Pasti aku harus minta ijin Adit untuk menggunakan uang bersama. Tapi apa iya Adit mengijinkan ? Aku masukkan katalog ke dalam tas dan aku berjalan mengitari mall. Oh ya, berjalan di mall termasuk olah raga kan ? Aku mengelilingi Plaza Senayan tiga kali sampai ngos-ngosan. Dan karena sedang diet, untuk menghilangkan haus aku tidak lagi minum teh botol kesukaanku, tapi green tea. Hebat ya ?
Oh tapi sebenarnya bukan cuma green tea. Tapi green tea plus kue soes dua !

Setiap pagi pun aku bangun lebih pagi supaya punya waktu untuk olah raga. Paling tidak sit up tiga puluh sampai enam puluh kali. Biasanya aku akan main skipping atau jogging di atas treadmil paling tidak tiga puluh menit setiap hari. Woow...aku pun sampai terbengong-bengong betapa hebatnya aku. Hehe...
Makan pun aku atur dengan seksama. Sarapan pagi, aku hanya makan satu buah apel dan segelas susu rendah lemak. Makan siang secukupnya. Makan malam tanpa nasi dan daging, hanya sayur dan buah saya. Memang sesekali aku menemani Adit makan nasi goreng di tengah malam. Tidak sepiring penuh, hanya curi-curi beberpa sendok dari piring Adit. Oh ya, aku juga sengaja tidak menimbang berat badanku selama program dietku ini. Rencananya bulan depan baru aku lakukan. Harapanku angka timbangan merosot drastis karena jangka waktu yang cukup lama.

Setiap kali sehabis mandi, aku pandangi badanku di depan kaca. Berharap lekuknya menuju sempurna. Meski aku akui masih ada lemak di sana sini, tapi aku men-setting pikiranku bahwa semakin hari si lemak akan semakin pergi. Aku tersenyum puas...

Hingga suatu saat, aku terbangun dengan kepala pusing dan mata berkunang-kunang.
Oh My God, aku kenapa ?
Adit paniknya luar biasa. Dia bilang badanku panas. Memang aku merasa badanku panas, tapi apa iya sampai Adit paniknya seperti itu.
Angka di termometer digital menunjukkan angka 38.8.
Adit tidak banyak tanya, dia langsung menelepon dokter langganan kami untuk membuat janji sekarang juga.

Akhirnya kami berangkat ke Rumah Sakit. Di tengah perjalanan, Adit memarahiku karena program diet yang aku jalani. Apalagi begitu hasil pemeriksaan dokter keluar, Adit semakin geram. Aku didiagnosa terlalu letih dan harus bed rest selama dua minggu.

Tiba di rumah, meski badan masih lemas, aku memberanikan diri naik ke atas timbangan. Padahal program ini baru kujalani selama dua minggu. Mungkin angkanya tidak akan terlalu dramatis, pikirku. Pelan-pelan aku naiki timbangan itu. Dan jarumnya menuju angka....
“Astaga ! Naik dua kilo !! “ teriakku.

Di depanku Adit tersenyum sambil memegang test pack.
“ Ya iya lah... kan ditambah berat adek bayi. “
Aku berlari ke dekatnya. Kami berpelukan.
“ Dan tidak ada program diet lagi ya...” Adit mencubit pipiku.
Hehe pintar sekali suamiku bersekongkol dengan dokter langganan kami.
Dan dietku pun batal..........!

cari